"Siapa?".
Terdengar nyanyian lembut dari kabut itu, tiba-tiba ada yang menyentuh bahuku. Otomatis aku langsung memukulnya, tiba-tiba nyanyian itu berhenti.
"Siapa kamu?!". Aku jadi terlihat seperti orang yang kemalingan. "Santai saja, aku ini peri dari negri dongeng", Jawab perempuan itu.
Seketika Aku tertawa keras, "BWAHAHAHAHA,,!!!", "Kamu habis minum obat apa sampai miring gitu?!", "Atau ini cuma mimpiku?".
"Tidak, ini serius. Maukah kamu menemaniku ke suatu tempat?". Perempuan tersebut berbicara dengan penuh keyakinan.
"Mana mungkin orang pintar mau mempercayai hal konyol seperti itu?". "Hanya orang bodoh yang terlalu mempercayai mimpi konyolnya itu".
Perempuan itu menghela napas,"Ups, sepertinya aku terlalu berlebihan, tapi tidak ada cara selain ini". Ia memejamkan matanya sambil menyentuh keningku lalu mengucapkan sesuatu."Hei, memangnya dengan tanganmu kamu bisa apa?. Memangnya aku orang bod-", ucapanku terputus dan aku seperti terbawa sebuah bola angin ke dimensi lain bersama perempuan itu.
"Siapa kamu?!". Aku jadi terlihat seperti orang yang kemalingan. "Santai saja, aku ini peri dari negri dongeng", Jawab perempuan itu.
Seketika Aku tertawa keras, "BWAHAHAHAHA,,!!!", "Kamu habis minum obat apa sampai miring gitu?!", "Atau ini cuma mimpiku?".
"Tidak, ini serius. Maukah kamu menemaniku ke suatu tempat?". Perempuan tersebut berbicara dengan penuh keyakinan.
"Mana mungkin orang pintar mau mempercayai hal konyol seperti itu?". "Hanya orang bodoh yang terlalu mempercayai mimpi konyolnya itu".
Perempuan itu menghela napas,"Ups, sepertinya aku terlalu berlebihan, tapi tidak ada cara selain ini". Ia memejamkan matanya sambil menyentuh keningku lalu mengucapkan sesuatu."Hei, memangnya dengan tanganmu kamu bisa apa?. Memangnya aku orang bod-", ucapanku terputus dan aku seperti terbawa sebuah bola angin ke dimensi lain bersama perempuan itu.
***
Napasku sesak, kepalaku pusing, Aku seperti mau muntah, semua pengelihatanku gelap.
"Nona?, anda sudah bisa bangun?", Aku langsung membuka mataku dengan banjir keringat dan meminta air putih. "Siap Nona, akan kami persiapkan segera". Setelah Aku meminum air tersebut aku lansung tertidur.
Malam harinya Aku terbangun, "Oh Nona sudah bangun". Pelayan tersebut tersenyum lembut kepadaku.
"Kamu bukannya lukisanku?!", Akhirnya aku sadar. "Tentu saja, semua orang disini adalah lukisanmu, dan mereka sangat menghormatimu". "Dan saya sangat senang karena bisa menjadi pelayan utamamu".
"T-terus, aku sekarang ada dimana?", Pelayan itu tersenyum kepadaku, "Nona berada di dunia lukisan Nona sendiri". Aku hanya bisa memeluk lututku sendiri.
Aku beranikan diri bertanya, "Lalu siapa yang mengantarku kesini?", "Beliau adalah orang yang paling menghormati Nona sebagai pelukisnya, Nona". Aku hanya ber-oh saja. Paling menghormati apaan, dia aja udah megang aku sembarangan sampai bilang "ups" segala, gumamku.
"Oh, ya Nona, besok ada Upacara Penyambutan atas kedatangan Nona, Jadi Nona harus tidur secepatnya". Pelayan itu segera mempersiapkan Kasur empuk untukku.
"O-oke.., tapi aku tidak bisa tidur karena tadi kebanyakan tidur, hehe...", Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
"Oh! baiklah kalau bagitu, Nona bisa bermain dengan saya sampai jam delapan malam", "Hontou Benarkah?!, terima kasih!".
Malam harinya Aku terbangun, "Oh Nona sudah bangun". Pelayan tersebut tersenyum lembut kepadaku.
"Kamu bukannya lukisanku?!", Akhirnya aku sadar. "Tentu saja, semua orang disini adalah lukisanmu, dan mereka sangat menghormatimu". "Dan saya sangat senang karena bisa menjadi pelayan utamamu".
"T-terus, aku sekarang ada dimana?", Pelayan itu tersenyum kepadaku, "Nona berada di dunia lukisan Nona sendiri". Aku hanya bisa memeluk lututku sendiri.
Aku beranikan diri bertanya, "Lalu siapa yang mengantarku kesini?", "Beliau adalah orang yang paling menghormati Nona sebagai pelukisnya, Nona". Aku hanya ber-oh saja. Paling menghormati apaan, dia aja udah megang aku sembarangan sampai bilang "ups" segala, gumamku.
"Oh, ya Nona, besok ada Upacara Penyambutan atas kedatangan Nona, Jadi Nona harus tidur secepatnya". Pelayan itu segera mempersiapkan Kasur empuk untukku.
"O-oke.., tapi aku tidak bisa tidur karena tadi kebanyakan tidur, hehe...", Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
"Oh! baiklah kalau bagitu, Nona bisa bermain dengan saya sampai jam delapan malam", "
***
Terdengar suara meriah di luar Istana, "Kau memang bukan raja sesungguhnya, tetapi kamu adalah pelukis dunia ini, berpidatolah dengan baik", Ucap ratu saat menemaniku berdandan.
"Tenang saja ratu, saya sudah mengumpulkan kepercayaan diri saya", Aku tersenyum.
Orang-orang memujiku saat selesai berpidato, akan tetapi mereka sedih karena aku akan kembali ke duniaku. Tapi sebelum aku kembali aku ingin mencicipi makanan di pasar kuliner dunia ini dan mengadakan pesta.
***
"Selamat tinggal Nona, semoga baik-baik saja", Pelayan itu memberikan gelang buatannya dan melambaikan tangan kepadaku. "Aku akan kembali atau melihat kalian dari kanvas!". Setelah itu aku kembali ke dunia nyataku.
DEGG!!!
Aku membuka mata dan melihat gambaran Istana di kanvasku dengan gelang diatas papan kanvas, apakah ini nyata?
~SELESAI~
Jangan lupa untuk meninggalkan komentar dan reaksi kamu saat membaca cerita ini,
beri dukungan buat Authornya ya!